Penyesalanku
Pengarang : Raditya Arief
Putrasetiawan
Hari itu, adalah hari rabu. Hari dimana aku kenal
dengan si Samson. Seperti biasa aku berangkat sekolah dengan Gojek. Setelah
sampai di sekolah aku langsung naik ke lantai 3 untuk ke kelasku. Di sana aku
langsung disambut oleh Nia. “si tukang telat akhirnya datang pagi ya?” Nia
tampak mengejekku. “ia dong, akukan sudah taubat!” balasku dengan percaya diri.
Kami bercanda ria sampai bel masuk berbunyi. “asiiik, pelajaran pertama
Biologi!” Nia tampak semangat belajar Biologi. Pelajaran Biologi adalah
pelajaran kedua yang kami suka setelah bahasa inggris. Lalu guru biologi, pak
Hong masuk kelas. “anak-anak sekarang kita belajar tentang ekosistem.” Pak Hong
menjelaskan ekosistem dengan gaya khasnya. Gayanya adalah favorit semua murit
termasuk aku. Setelah pelajaran Biologi selesai, tibalah pelajaran IPS
pelajaran yang kami tidak suka. Gurunya galak, jarang masuk kalau mengajar, dan
selalu ngasih soal yang susah-susah. Setelah pelajaran yang melelahkan itu selesai,
kami langsung ke kantin untuk beristirahat. Di kantin aku ngobrol-ngobrol
dengan Nia sambil makan siomai. Setelah bel masuk berbunyi kami masuk ke kelas.
Di kelas bu tata, wali kelas kami membawa seorang murit baru. Orangnya tinggi,
langsing, dan putih. Pokoknya ganteng deh. “anak-anak, kita kedatangan murit
baru. Silahkan perkenalkan diri kamu.” Bu Tata mempersilahkan. “nama saya
Samson, saya dari SMPN 99 cirebon. Saya harap teman-teman bisa menerima saya.”
Lalu ibu Tata mempersilahkannya duduk. “kamu boleh duduk dimana saja.” Lalu ia
pergi ke tempat duduk Nia. “kamu minggir, aku ingin duduk dengan cewek cantik
ini.” Nia menolak, tapi entah setan apa yang merasuki diriku aku bilang.
“mingir lu Nia!” Nia pun akhirnya berpindah tempat duduk. Setelah itu bu Tata
mengajar bahasa inggris. Jam istirahat kedua Nia menghampiriku. “mau kekantin?
Aku deh yang teraktir!” awalnya aku menerima ajakan Nia tapi tiba-tiba Samson
menarik tanganku. “kamu milih ke kantin sama aku atau sama cewek kampungan
itu?” entah setan apa yang merasuki diriku saat itu aku bilang kepada Nia.
“nggak usah, dan dengarya, jangan pernah mengajakku ke kantin lagi!” akupun ke
kantin bersama Samson. “mau nggak aku traktir?” tawarku. “mau banget.” Jawab
Samson. Kamipun makan bersama dan ngobrol bersama. Lalu dia nanya “rumahmu
dimana Oki?” tanya Samson. “rumahku ada di Jl Jeruk No. 123.” Lalu setelah
selesai makan kami kembali ke kelas. Di kelas, aku melihat Nia menangis tapi
aku hiraukan saja.
Keesokan harinya, aku seperti biasa pergi ke sekolah dengan Gojek. Sesampainya
disana aku disambut oleh Nia. “ngobrol yuk, Oki!” tawarnya. “jangan-jangan,
kamu ngobrol sama aku aja.” Samson tiba-tiba menarik tanganku. Kami pun mengobrol.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Aku bergegas duduk. Bu Moli, guru galak nan
killer. Kelas menjadi sepi kalau beliau mengajar. Tak ada yang berani
berbicara. Beliau adalah guru MTK. Beliau mengajar dengan tegas. Beliau akan
menyuruh siapa saj yang membuat suara untuk engklek. Setelah mMTK selesai,
dilanjutkan oleh pelajaran agama. Setelah itu aku pun beristirahat. Aku ke
kantin bersama Samson. Kali ini, Samson yang menraktirku. Kami
berbincang-bincang dengan suka cita.Tak terasa setengah semester telah berlalu. Ini waktunya liburan. Telah sekian lama aku dan Nia tidak bertegur sapa. Biasanya Nia yang menegurku, tapi tidakku jawab. Besok rencanannya aku dan keluargaku akan pergi ke lombok. Aku sangat senang sekali saat mendengar berita itu. aku langsung mempersiapkan perlengkapan untuk ke lombok. Di Lombok aku sangat senang sekali. Disana aku bermain-main di pantai. Sepulangnya dari sana aku kaget melihat rumahku pintunya di dobrak, banyak barang-barang berharga yang hilang. Tak terkecuali dokumen berharga ayah. Ayah terlihat sangat panik saat mengetahui dokumennya hilang. Kemudian kami sekeluarga memutuskan untuk melapor kepada polisi.
Keesokan harinya, aku ke sekolah dengan keadaan murung. Sesampainya di sana Nia menghampiriku dan bertanya… “kok kamu kelihatan sedih sih? cerita dong sama aku.” aku pun menjawab… “Gini, kemarin sehabis dari lombok, rumahku kemalingan. Yang lebih parah lagi, dokumen ayahku hilang.” Nia kemudian bilang… “kalau nggak salah, aku kemarin waktu aku tidak sengaja melewati rumahmu. Aku lihat ada orang yang mendobrak pintu rumahmu. Aku lihat, orang itu adalah Samson.” Mendengar jawaban dari Nia aku marah seketika. “kamu mau hancurin persahabatanku dengan Samson ya? Udah ah aku nggak mau curhat sama kamu!” aku pun mendorong Nia dan langsung duduk di bangkuku. Tak lama kemudian Samson datang. Kemudian, dia langsung duduk disebelahku. “Ki, kok kelihatan sedih?” tanya Samson. “kemarin, rumahku kemalingan.” Jawabku. “oh begitu, yang sabar ya.” Jawab Samson. “iya, makasih ya. Jawabku. Pelajaran hari ini tidak ada yang masuk. Aku masih terus memikirkan tentang siapa yang mengambil dokumen ayah. Jam istirahat pun tiba, Samson mengajakku ke kantin. “Ki, mau ke kantin?” tanyanya. “aku nggak punya uang.” Jawabku. “enggakpapah, kok nanti aku beliin.” Saat aku beranjak dari tempat duduk. “kamu di kelas aja ya?” iya menyuruhku untuk tetap berada di kelas. Karena males pergi ke kantin, aku pun tetap di kelas. Setelah menunggu lama, tiba-tiba Samson datang ke kelasku dengan membawa minuman. “ini.” Ia menyerahkan menumannya. “terimakasih.” Aku pun meneguknya. Tiba-tiba aku merasa pusing. “kamu kenapa?” tanya Samson. “kepalaku pusing.” Jawabku. “mau aku antarin ke UKS?” tanya Samson. “iya deh, terimakasih ya?” aku pun di anterin sama Samson ke UKS. Di UKS aku masuk dan langsung berbaring. Tiba-tiba… Pak Sanur, guru baru di sekolah ini masuk dan langsung mengunci pintu. Awalnya aku kira pak Sanur masuk ingin meriksa aku, tapi aku salah. Pak Sanur tampak membawa pisau tajam. “P pak Sanur, kenapa bapak bawa pisau tajam?” tanyaku. “ha, ha, ha, akhirnya anaknya pak Budi kita dapatkan juga ya, Samson?” Pak Sanur mengeluarkan aura pembunuh. “iya yah.” Jawabnya. “K kenapa, kalian mau membunuh saya?” tanyaku. “tiba-tiba pak sanur bicara. “aku adalah saingan bisnis ayahmu. Langkah pertama untuk menghancurkan bisnisnya adalah mengambil dokumen berharga ayahmu. Langkah kedua adalah membuat hatinya pedih dengan cara menghabisi satu persatu orang yang dia sayangi. Dan inilah langkah keduanya!” iya pun mengayunkan pisaunya. Akupun teriak minta tolong. Tapi, tidak ada yang datang. Iya pun hampir saja membunuhku. Tapi… “Pak Sanur, bapak ditahan!” aku melihat para aparat kepolisian, Nia, dan para guru mnyekap pak Sanur dan Samson. Nia menghampiri aku. “kamu nggak papa Ki?” tanyanya. “aku nggak papa. Maafin aku ya Nia?” aku pun meminta maaf. “minta maaf apa?” tanyanya. “aku telah menjauhimu selama ini. Aku lebih memilih penjahat itu dibandingmu.aku benar-benar menyesal Nia. Aku berharap kamu mau maafin aku. tapi kalau enggak, nggak papa kok.” Nia pun meneteskan air mata dan langsung memelukku. “enggak minta maaf pun sudah aku maafin kok.” Setelah kejadian itu, kami bersahabat lagi dan tidak ada tembok apapun yang bisa merusak persahabatan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar