Pernahkah
kalian membayangkan bagaimana kalau kita harus mempertaruhkkan nyawa untuk
masuk ke rumah sendiri? itulah yang dirasakan pangeran Fireon. Karena dituduh
membunuh ayahnya, ia diusir dari istana. Untuk kembali ke istananya, ia harus menemukan
Book Of Truth. Dan untuk mendapatkan buku tersebut bukanlah hal yang mudah.
Silahkan baca petualangan pangeran Fireon bersama teman-temannya untuk mencari
buku tersebut disini!
Seseorang mengetuk pintu dengan pelan. Setelah dibolehkan
masuk oleh yang ada di dalam, ia langsung membuka pintu perlahan dan segera
masuk.
“maafkan hamba telah menganggu waktu istirahatmu tuan Carl, Hamba hanya ingin bilang waktu kita sudah dekat.” Ucap si pengetuk pintu sembari menunduk, memberi hormat.
orang yang dipanggil Carl hanya berkata, “ya, aku juga tahu itu. tiga hari lagi kerajaan ini akan menjadi milikku.”
sang pengetuk pintu tertawa ringan. Setelah itu ia berkata, “lalu apa rencana tuan?”
“rencanaku ya? hmm, kau nanti akan mengetahuinya sendiri. ikutilah saja perintahku. Jangan banyak bicara.” Ucap Carl keras.
si pengetuk pintu gemetar. Ia paling takut kalau tuannya sampai marah. Setelah ketakutannya berkurang ia langsung berpamitan kepada tuannya dan segera pergi dari ruangan itu.
“hahaha, kerajaan ini akan menjadi milikku,” gumam Carl saat si pengetuk pintu pergi meninggalkannya.
“maafkan hamba telah menganggu waktu istirahatmu tuan Carl, Hamba hanya ingin bilang waktu kita sudah dekat.” Ucap si pengetuk pintu sembari menunduk, memberi hormat.
orang yang dipanggil Carl hanya berkata, “ya, aku juga tahu itu. tiga hari lagi kerajaan ini akan menjadi milikku.”
sang pengetuk pintu tertawa ringan. Setelah itu ia berkata, “lalu apa rencana tuan?”
“rencanaku ya? hmm, kau nanti akan mengetahuinya sendiri. ikutilah saja perintahku. Jangan banyak bicara.” Ucap Carl keras.
si pengetuk pintu gemetar. Ia paling takut kalau tuannya sampai marah. Setelah ketakutannya berkurang ia langsung berpamitan kepada tuannya dan segera pergi dari ruangan itu.
“hahaha, kerajaan ini akan menjadi milikku,” gumam Carl saat si pengetuk pintu pergi meninggalkannya.
Sedangkan di tempat lain, seorang anak sedang berlatih
berpedang bersama ayahnya. Sang anak tampak kewalahan menghadapi ayahnya.
Sedangkan sang ayah tidak sama sekali mengeluarkan keringat.
“siaaaal, kenapa untuk membuat luka sedikit saja aku tidak bisa!” ucap sang anak frustasi.
sang ayah yang merupakan raja negeri Alveres tersenyum tipis. “kau menyerah? Begitu saja kau menyerah? Latihan kita belum selesai.”
sang anak kembali menghunuskan pedangnya ke arah ayahnya. Namun, sang ayah menahannya hanya dengan satu tangannya.
“lagi-lagi gagal...” sang anak frustasi.
“yang mulia! Anda dipanggil! Ada rapat yang harus dihadiri!” ucap seorang prajurit sembari menunduk di depan ayah dari anak tersebut.
“aku akan segera kesana.” Ucap sang ayah. Ia pun meninggalkan anaknya yang hanya bisa mengomel sendiri karena ayahnya malah rapat bukannya berlatih bersamanya.
“kenapa rapat melulu! Padahal latihannya baru dimulai!” omelan terus terdengar dari mulut sang anak.
“pangeran Fireon, anda bisa berlatih dengan saya.” Ucap seorang prajurit.
sang anak yang merupakan pangeran Fireon tidak merespon. Ia sesegera mungkin meninggalkan tempat ini. Menurutnya tidak ada gunanya berlatih bersama prajurit itu. cara melatihnya terlalu lembut. Membuat Fireon kurang tertantang.
“siaaaal, kenapa untuk membuat luka sedikit saja aku tidak bisa!” ucap sang anak frustasi.
sang ayah yang merupakan raja negeri Alveres tersenyum tipis. “kau menyerah? Begitu saja kau menyerah? Latihan kita belum selesai.”
sang anak kembali menghunuskan pedangnya ke arah ayahnya. Namun, sang ayah menahannya hanya dengan satu tangannya.
“lagi-lagi gagal...” sang anak frustasi.
“yang mulia! Anda dipanggil! Ada rapat yang harus dihadiri!” ucap seorang prajurit sembari menunduk di depan ayah dari anak tersebut.
“aku akan segera kesana.” Ucap sang ayah. Ia pun meninggalkan anaknya yang hanya bisa mengomel sendiri karena ayahnya malah rapat bukannya berlatih bersamanya.
“kenapa rapat melulu! Padahal latihannya baru dimulai!” omelan terus terdengar dari mulut sang anak.
“pangeran Fireon, anda bisa berlatih dengan saya.” Ucap seorang prajurit.
sang anak yang merupakan pangeran Fireon tidak merespon. Ia sesegera mungkin meninggalkan tempat ini. Menurutnya tidak ada gunanya berlatih bersama prajurit itu. cara melatihnya terlalu lembut. Membuat Fireon kurang tertantang.
Fireon termenung sendiri di taman belakang istana. Ia sibuk
memikirkan nasibnya kelak. Apakah yang
akan terjadi jika aku jadi raja? Apakah yang akan terjadi jika aku memerintah?
Apakah aku tak bisa bebas lagi seperti ini? pertanyan demi pertanyaan
keluar dari mulut Fireon. Ia memang tidak ingin menjadi raja. Keinginannya
adalah menjadi panglima perang. ia ingin sekali ikut dalam medan perang
sungguhan. Bukan hanya duduk di atas singgasana lalu memerintah. “ah dari pada
aku pusing sendiri, lebih baik aku berlatih sendiri.” Fireon mengucapkan sebuah
mantra. Seketika, taman tersebut berubah menjadi lapangan latihan yang
dilengkapi dengan bermacam-macam patung. Patung-patung tersebut berguna untuk
menjadi target serangan. Dengan kecepatan tinggi, ia menghancurkan
patung-patung itu satu per satu. Setelah selesai, ia langsung mengubah lapangan
latihan tersebut menjadi taman kembali.
“ini terlalu mudah. Adakah latihan yang lebih menantang?” ucapnya kesal. Memang menghancurkan beribu-ribu patung satu per satu bukanlah hal yang sulit. Setidaknya itu menurut Fireon. Setelah berfikir panjang, ia memutuskan untuk berburu hewan. Itu rasanya lebih menantang dari pada berlatih sendiri. ia pun mengambil kudanya di kandang istana. Ia memang memutuskan untuk berburu sendiri. karena menurutnya berburu sendiri itu lebih seru dari pada berburu bersama pengawalnya.
“ini terlalu mudah. Adakah latihan yang lebih menantang?” ucapnya kesal. Memang menghancurkan beribu-ribu patung satu per satu bukanlah hal yang sulit. Setidaknya itu menurut Fireon. Setelah berfikir panjang, ia memutuskan untuk berburu hewan. Itu rasanya lebih menantang dari pada berlatih sendiri. ia pun mengambil kudanya di kandang istana. Ia memang memutuskan untuk berburu sendiri. karena menurutnya berburu sendiri itu lebih seru dari pada berburu bersama pengawalnya.
Pangeran Fireon melajukan kudanya dengan cepat. Setelah
sampai di tengah hutan, ia memakirkan kudanya di samping pohon. Setelah itu, ia
mengikat kudanya agar tidak kabur. Ia pun segera melakukan aksinya. Ia
bersembunyi di balik semak-semak. dan setelah seekor rusa lewat, pangeran
Fireon langsung mengeluarkan sihirnya. Sihir yang dikeluarkan olehnya adalah
semacam panah yang terbuat dari es. Panah itu tepat tertancap di kaki rusa
malang tersebut. Ia pun menghampiri rusa itu. dan berniat membakar hasil
buruannya. Ia pun mencari kayu bakar. Dan setelah dapat, ia membuat api unggun
dari kayu bakar tersebut. Ia membakar rusa tersebut. Dan setelah matang, ia
langsung memakannya.
“rasanya enak. Ini lebih lezat dari pada makanan di istana.”
pangeran Fireon memuji-muji rusa bakar yang baru saja ia masak. Seketika, kegiatan makannya terhenti karena ia mendengar suara llangkah kaki seseorang. Ia pun menoleh ke asal suara. Dilihatnya seorang gadis berambut pirang pendek. Ia memakai baju Zira. Dan pedang aneh terpasang di punggung gadis tersebut. Ternyata itu Valatia. Salah satu teman baik Fireon. Valatia adalah cewek bermulut es tapi berhati sutra. Itu pendapat Fireon tentang gadis misterius tersebut. Sifatnya memang dingin. Seolah tidak peduli dengan nasip teman-temannya. Sebenarnya di hati gadis tersebut. Ia sangat menyayangi teman-temannya lebih dari apapun. Gadis itu cukup misterius. Menyebabkan Fireon tidak mengetahui asal atau siapa Valatia itu sebenarnya. Fireon mendekat ke arah Valatia.
“eh, kamu ngapain di tengah hutan seperti ini?” tanya Fireon.
“bukan urusanmu.” Ucap Valatia dingin.
Fireon menghela nafas pasrah. Gadis itu selalu bilang begitu saat ia menanyakan hal apa yang sedang dilakukannya.
“kalau begitu aku ikut denganmu. Aku merasa bosan berburu seperti ini! aku tahu kau memiliki hal yang lebih seru dari pada berburu hewan!”
“tidak ada yang seru. Kau yakin ingin ikut denganku? Nyawamu bisa saja melayang.”
“ya. aku yakin.”
karena tidak ada pilihan lain, Valatia memutuskan untuk mengajak Fireon ikut bersamanya. Tidak jauh dari tempat mereka berdua, seorang laki-laki berjubah hitam sedang memperhatikan mereka.
“akan ku pastikan kau mati, pangeran Fireon.”
“rasanya enak. Ini lebih lezat dari pada makanan di istana.”
pangeran Fireon memuji-muji rusa bakar yang baru saja ia masak. Seketika, kegiatan makannya terhenti karena ia mendengar suara llangkah kaki seseorang. Ia pun menoleh ke asal suara. Dilihatnya seorang gadis berambut pirang pendek. Ia memakai baju Zira. Dan pedang aneh terpasang di punggung gadis tersebut. Ternyata itu Valatia. Salah satu teman baik Fireon. Valatia adalah cewek bermulut es tapi berhati sutra. Itu pendapat Fireon tentang gadis misterius tersebut. Sifatnya memang dingin. Seolah tidak peduli dengan nasip teman-temannya. Sebenarnya di hati gadis tersebut. Ia sangat menyayangi teman-temannya lebih dari apapun. Gadis itu cukup misterius. Menyebabkan Fireon tidak mengetahui asal atau siapa Valatia itu sebenarnya. Fireon mendekat ke arah Valatia.
“eh, kamu ngapain di tengah hutan seperti ini?” tanya Fireon.
“bukan urusanmu.” Ucap Valatia dingin.
Fireon menghela nafas pasrah. Gadis itu selalu bilang begitu saat ia menanyakan hal apa yang sedang dilakukannya.
“kalau begitu aku ikut denganmu. Aku merasa bosan berburu seperti ini! aku tahu kau memiliki hal yang lebih seru dari pada berburu hewan!”
“tidak ada yang seru. Kau yakin ingin ikut denganku? Nyawamu bisa saja melayang.”
“ya. aku yakin.”
karena tidak ada pilihan lain, Valatia memutuskan untuk mengajak Fireon ikut bersamanya. Tidak jauh dari tempat mereka berdua, seorang laki-laki berjubah hitam sedang memperhatikan mereka.
“akan ku pastikan kau mati, pangeran Fireon.”
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar