Rabu, 04 November 2015

The Dark Power Chapter 1: Hari Pertama Di Asrama Magicitria

Akhirnya bisa ubdate!


Windry POV:
setelah aku keluar dari ruang perawatan, aku diminta untuk memperkenalkan diriku. Aku senang mendengar itu. aku pikir pasti anak-anak asrama ini hatinya baik seperti Lisa. Tapi, ada yang aneh dari tubuhku. Aku tidak merasakan sama sekali aliran listrik ditanganku. Aliran listrik yang telah merubah hidupku. Aku tidak tahu kekuatan apa itu, tapi kekuatan itu sangat mengerikan. Ku ingat kejadian dimana itu terjadi.
“dasar anak miskin!” seorang anak terus saja membuli temanku. Aku yang melihatnya langsung mengeraskan tanganku. Aku berniat untuk memberi anak-anak tukang buli itu pelajaran karena telah membuli temanku. Namun, aku bukannya memberi pelajaran. Dengan tangan ini, aku membunuh anak itu. aku tidak tahu mengapa hal itu dapat terjadi. padahal aku memukulnya dengan sangat pelan. Tapi, kenapa aku dapat membunuh anak itu. dan tidak meninggalkan luka lagi. Memangnya siapa aku ini.
ku ingat selalu kejadian itu. setelah kejadian itu, saat aku sedang marah, sedih, ketakutan, aku selalu saja berakhir membunuh orang, membuat orang pingsan, atau memecahkan barang. Orang tuaku merasa malu melihat anaknya melakukan hal itu. mereka pun membuangku. Mereka melemparku ke sebuah jurang. Ajaib aku bisa selamat dan berakhir di asrama ini.
Ku langkahkan kakiku menuju sebuah lapangan. Lapangan hijau yang benar-benar luas. Seorang laki-laki langsung menarikku ke atas panggung yang tersedia ditengah lapangan itu dengan kasar. “kita kedatangan murit baru!” ia pun menyuruhku memperkenalkan diriku.
anak-anak laki-laki di tempat ini menatapku aneh. Tatapan yang sangat mengintimidasi. Itu membuatku ketakutan. Ternyata asrama ini tidak sebaik yang kupikirkan. “lama sekali, cepat perkenalkan dirimu!” seorang anak laki-laki melempariku dengan kertas. Air mata hampir saja jatuh. Namun buru-buru ku seka.
“n namaku...” aku terbata-bata menyebutkan namaku padahal cuman nama. Tapi tatapan anak-anak yang cukup mengintimadasi membuat rasa beraniku ciut. “n namaku Windry White Star. Saya harap teman-teman bisa menerima saya.” Ucapku masih takut-takut.
setelah itu, aku disuruh menyapa temanku satu per satu. Ku hampiri seorang anak lelaki berambut cokelat. Ku sapa anak itu. namun bukannya sapaan balik yang ku dapat, malah senyuman mengejek. Setelah memperkenalkan diriku pada anak-anak menakutkan itu, aku pun disuruh untuk duduk. “nah, dia adalah Windry teman baru kita. Kalian harus memperlakukannya dengan layak.” Pesan lelaki berjanggut itu.
“saya mau nanya pak! Emangnya anak kecil penakut ini pantas tinggal disini?” tanya lelaki botak yang duduk disebelahku.
pertanyaan itu benar-benar membuatku tersinggung. Aku menatap anak itu tajam. Namun, anak itu malah memberikan senyum mengejek.
Setelah perkenalan selesai, aku diminta untuk menempati kamar nomor 20. Kamar itu tidak begitu luas tapi juga tidak terlalu sempit. Kamar itu begitu mewah dengan dua tempat tidur, dan sebuah pendingin ruangan yang terbuat dari lingkaran sihir. walaupun kamarnya nyaman, tapi tetap saja tidak membuatku betah berlama-lama disini. dari kejadian saat perkenalan tadi bisa kusimpulkan bahwa tempat ini benar-benar menakutkan.
seorang gadis masuk. Gadis itu berambut biru dengan kuncir kuda. “halo, namaku Syreen, salam kenal.” Ia menyodorkan tangannya padaku. Aku pun membalasnya.
“namamu siapa?” tanya Syreen sembari duduk disampingku.
“W W Windry...” ucapku masih takut-takut.
“bagaimana perkenalanmu? Sakit, kan?” tanya Syreen yang membuatku kaget.
“ey, kok kamu bisa tahu?” tanyaku yang tak mengerti.
“aku pernah mengalaminya. Para senior memang begitu. Mentang-mentang lebih tua suka sinis pada para juniornya.” Ia menghela napas. “kadang-kadang, aku lelah dengan sikap mereka yang sok itu. tapi, jangan khawatir para juniornya baik kok! Kau kenal Lisa, kan? Dia super sabar dan baik.” Jelasnya.
aku mengangguk pelan. Aku mulai lega ternyata hanya para senior yang bersikap sinis.
“nanti malam mau latihan tidak? Aku akan mengajari beberapa gerakan dasar. Jadi nanti, kamu tidak dimarahi oleh pak Rob.” Usulnya.
“beneran?” tanyaku tidak percaya.
“ya! aku tidak pernah mengingkari janji.” Ia pun membaringkan tubuhnya di kasur. “tapi untuk sekarang, kita lebih baik tidur.” ia menutup matanya. Aku mengikutinya dan langsung membaringkan tubuhku disebelahnya.
Aku terbangun saat aku mendengar sebuah suara mengagetkanku. “ayo! Jadi latihan, nggak?” tanyanya sambil membawa peralatan untuk latihan.
aku mengangguk. “ayo!”
kami pun menuju tempat latihan yang tak lain dan tak bukan adalah lapangan tadi.
“baiklah, bagaimana kalau kita pemanasan dulu? pertarungan tangan! Kau bisa?” tanyanya sambil bersiap.
“ya. aku bisa.” Jawabku.
kami pun saling mengadu pukulan. Syreen memukul perutku dengan keras mengakibatkan aku tersungkur. Aku buru-buru bangun dan bersiap untuk membalas pukulannya ternyata aku berhasil memukul perutnya. Menyebabkan Syreen terjatuh.
“kau tidak apa-apa?” tanyaku sembari menghampiri Syreen.
namun tiba-tiba, Syreen memukulku. “seorang petarung tidak boleh kehilangan konsen trasi.” Ucapnya. Aku terjatuh. Aku bangkit kembali. Llalu aku memukulnya dari belakang. Ia tersungkur. “kau... menang... hebat!” ucapnya. Setelah itu, Syreen langsung mengajari dasar tentang sihir. “jadi sihir itu ada tiga. Sihir putih atau sihir suci, sihir biru atau sihir normal, sihir hitam atau sihir gelap.”
aku mengangguk. “lalu sihirku apa?” tanyaku.
Syreen memberikanku sebuah tabung. Ia menyuruhku memasukan tanganku ke tabung itu. aku pun memasukan tanganku ke tabung itu. hasilnya...
“sihirmu... sihir gelap.” Ucapnya.
“sudah kuduga. Jadi sihirku memang sihir gelap.” Aku tidak terlalu terkejut.
Syreen lalu menyuruhku duduk.
“seharusnya jika kau memiliki sihir gelap, kau mempunyai kemampuan kusus yang mengerikan. Mana kemampuan itu? aku ingin tahu!” ia mendesakku.
“aku memang punya suatu kemampuan khusus tapi, entahlah aku tidak tahu kenapa sekarang aku tidak dapat menggunakannya.” Jelasku.
“oh begitu ya.” ia mengerti. “baiklah, kita balik ke kamar.”
“hehehe, bagaimana kalau balapan?” tantangku.
“ey?” tanyaku bingung.
“siapa yang sampai di kamar duluan dia menang!” tantangku.
“ayo siapa takut!” Namun, sebelum kami memulai lomba kami sebuah bayangan mengagetkan kami.
“s siapa kau?” tanyaku kepada bayangan itu.
bayangan itu semakin jelas dan menampilkan...
To be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar