Ini cerita karangan Author... mari kita sambut... jeng
jeng... Dark Power!
Author POV
Jorj berjalan terengah-engah menuju pintu ruang perawatan.
Ia membawa seorang gadis berambut hitam panjang yang tampaknya terluka.
“Lisa! Aku butuh bantuanmu!” teriak Jorj.
Lisa menghampiri Jorj. “ada apa?” tanyanya
“gadis ini terluka, aku mohon tolong kau mengobatinya.”
Lisa mengangguk. Ia menyuruh Jorj untuk menidurkan gadis itu ke atas ranjang. Ia lalu meletakan tangannya ke perut sang gadis.
“lukanya parah, tapi masih dapat ku obati.” Sebuah cahaya mengalir dari tangan Lisa perlahan luka gadis tadi menutup.
“aku tahu aku bisa mengandalkanmu!” Jorj tersenyum ke arah Lisa.
Lisa balik tersenyum. Tiba-tiba raut mukanya menandakan keterkejutan.
“J Jorj, kau menemukan gadis ini dimana?” tanya Lisa sembari merinding.
“di jalan. Saat aku pulang dari kegiatan rutinku yaitu membeli eskrim di kedai bu Flory.” Jawab Jorj
“ada yang aneh dari gadis ini. Benar-benar menakutkan.” Lisa menaikan sebelah alisnya.
‘”ey? Apa yang aneh? Apa itu?” Jorj menatap Lisa penasaran.
“kau tahu Shinken?” tanya Lisa.
“Hm?” Jorj menggaruk tengkuknya.
“itu lo Clan pembunuh yang kejam.” Lisa menerangkan.
“Clan pembunuh? Yang mana? Kan banyak clan pembunuh di dunia ini.” Jorj bingung.
Lisa menghela napas. “Clan Shinken. Mereka adalah pembunuh bayaran yang sangat kejam. Mereka tidak menggunakan senjata apapun. Mereka hanya menggunakan tangan kosong. Namun, dengan tangan itu mereka dapat menghancurkan semua saraf dan sel lawan sekali gus. Mereka itu tidak meninggalkan jejak. Jadi, agak sulit menemukan mereka. Tapi, setahuku mereka telah punah 20 tahun yang lalu.” Jelas Lisa.
“ey? Jadi anak ini Shinken?” tanya Jorj.
“ya begitulah. Tubuhnya dipenuhi Shinken. Kalau tidak terkendali dia bisa saja membunuh satu asrama ini.” Lisa kembali mengobati gadis itu.
“kalau begitu, kita lebih baik bunuh saja dia! Kan berbahaya?” usul Jorj.
“jangan bodoh! Ingat, aku tidak mau membunuh siapapun. Lagi pula, kau yang membawa gadis ini kemari?” Lisa menatap Jorj.
“ya. tapi aku berubah pikiran. Kita lebih baik membunuh dia dari pada dia meresahkan para anak-anak disini.” jelas Jorj.
“tidak akan ku biarkan! Dia ini masih kecil, aku lihat dari sudut matanya kalau dia ini tidak berniat membunuh siapapun.”
“terserah kau saja.” Jorj pergi meninggalkan ruangan itu.
“dasar, tidak bertanggung jawab...” Lisa menggerutu. “tapi apa yang dikatakan Jorj ada benarnya juga. Aku lebih baik bicarakan ini pada nyonya Delis.”
“Lisa! Aku butuh bantuanmu!” teriak Jorj.
Lisa menghampiri Jorj. “ada apa?” tanyanya
“gadis ini terluka, aku mohon tolong kau mengobatinya.”
Lisa mengangguk. Ia menyuruh Jorj untuk menidurkan gadis itu ke atas ranjang. Ia lalu meletakan tangannya ke perut sang gadis.
“lukanya parah, tapi masih dapat ku obati.” Sebuah cahaya mengalir dari tangan Lisa perlahan luka gadis tadi menutup.
“aku tahu aku bisa mengandalkanmu!” Jorj tersenyum ke arah Lisa.
Lisa balik tersenyum. Tiba-tiba raut mukanya menandakan keterkejutan.
“J Jorj, kau menemukan gadis ini dimana?” tanya Lisa sembari merinding.
“di jalan. Saat aku pulang dari kegiatan rutinku yaitu membeli eskrim di kedai bu Flory.” Jawab Jorj
“ada yang aneh dari gadis ini. Benar-benar menakutkan.” Lisa menaikan sebelah alisnya.
‘”ey? Apa yang aneh? Apa itu?” Jorj menatap Lisa penasaran.
“kau tahu Shinken?” tanya Lisa.
“Hm?” Jorj menggaruk tengkuknya.
“itu lo Clan pembunuh yang kejam.” Lisa menerangkan.
“Clan pembunuh? Yang mana? Kan banyak clan pembunuh di dunia ini.” Jorj bingung.
Lisa menghela napas. “Clan Shinken. Mereka adalah pembunuh bayaran yang sangat kejam. Mereka tidak menggunakan senjata apapun. Mereka hanya menggunakan tangan kosong. Namun, dengan tangan itu mereka dapat menghancurkan semua saraf dan sel lawan sekali gus. Mereka itu tidak meninggalkan jejak. Jadi, agak sulit menemukan mereka. Tapi, setahuku mereka telah punah 20 tahun yang lalu.” Jelas Lisa.
“ey? Jadi anak ini Shinken?” tanya Jorj.
“ya begitulah. Tubuhnya dipenuhi Shinken. Kalau tidak terkendali dia bisa saja membunuh satu asrama ini.” Lisa kembali mengobati gadis itu.
“kalau begitu, kita lebih baik bunuh saja dia! Kan berbahaya?” usul Jorj.
“jangan bodoh! Ingat, aku tidak mau membunuh siapapun. Lagi pula, kau yang membawa gadis ini kemari?” Lisa menatap Jorj.
“ya. tapi aku berubah pikiran. Kita lebih baik membunuh dia dari pada dia meresahkan para anak-anak disini.” jelas Jorj.
“tidak akan ku biarkan! Dia ini masih kecil, aku lihat dari sudut matanya kalau dia ini tidak berniat membunuh siapapun.”
“terserah kau saja.” Jorj pergi meninggalkan ruangan itu.
“dasar, tidak bertanggung jawab...” Lisa menggerutu. “tapi apa yang dikatakan Jorj ada benarnya juga. Aku lebih baik bicarakan ini pada nyonya Delis.”
Lisa pun meninggalkan ruangan perawatan. Ia berlari menuju
ruangan nyonya Delis.
“selamat pagi, ketua heeler!” sapa Lisa sembari tersenyum.
“selamat pagi juga, Lisa. Ada apa repot-repot kesini? Latihan masih 2 jam lagi.”
Lisa menghampiri Delis ia pun menjelaskan perihal gadis Shinken itu.
“jadi itu masalahmu?” tanya Delis ia pun beranjak dari kursinya.
“ya. tapi, aku tidak tega membunuhnya.” Jawab Lisa.
“kalau begitu kita segel Shinkennya.” Delis pergi meninggalkan tempat itu. Lisa mengikutinya.
“selamat pagi, ketua heeler!” sapa Lisa sembari tersenyum.
“selamat pagi juga, Lisa. Ada apa repot-repot kesini? Latihan masih 2 jam lagi.”
Lisa menghampiri Delis ia pun menjelaskan perihal gadis Shinken itu.
“jadi itu masalahmu?” tanya Delis ia pun beranjak dari kursinya.
“ya. tapi, aku tidak tega membunuhnya.” Jawab Lisa.
“kalau begitu kita segel Shinkennya.” Delis pergi meninggalkan tempat itu. Lisa mengikutinya.
“ini orangnya, ketua!” Lisa menunjuk gadis yang tengah
terbaring lemah tersebut.
“hmm.” Delis menyilangkan tangannya. “segel!” teriaknya.
sebuah cahaya muncul. Cahaya itu masuk ke dalam tubuh gadis tadi.
“sekarang, tidak ada yang perlu dikawatirkan semuanya akan baik-baik saja.” Delis pun pergi meninggalkan ruangan itu. menyisakan Lisa dan gadis tadi. Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka mata. “dimana aku?” tanyanya dengan nada pelan.
“di asrama sihir Magicitria. Kau berada di ruang perawatan.” Jawab Lisa.
“Magicitria? Sekarang aku berada dinegara mana?” tanyanya masih bingung.
“Zronzdia.” Jawab Lisa.
“ey? Kok bisa?” gadis itu terkejut dan buru-buru berdiri. Namun sebelum berdiri Lisa menahannya.
“jangan berdiri dulu. aku baru saja mengobati lukamu.” Pesan Lisa.
“em, terimakasih.” Jawab gadis itu lalu tidur kembali.
“kau mau makan apa?” tanya Lisa lembut.
“makan apa saja aku mau. Tapi aku ingin pisang goreng.” Jawab gadis itu.
Lisa mengangguk. Ia pun menuju dapur untuk membuatkan makanan untuk gadis itu.
“ini, makan ya?” Lisa meletakan sepiring pisang goreng di sebelah ranjang gadis tadi.
“terima kasih.” Dengan lahap gadis tadi memakannya.
“namamu siapa?” tanya Lisa.
“Windry White Star.” Jawab gadis itu yang bernama Windry.
“namaku Lisa Roze. Salam kenal.” Lisa menyodorkan tangannya. Dan Windry membalasnya.
“kau berasal dari mana?” tanya Lisa.
“entahlah. aku diusir.” Jawab Windry. Lisa merasa iba ia pun menawarkan gadis itu untuk tinggal di asrama ini.
“benar tidak apa-apa?” tanya Windry.
“tentu saja! Aku akan mendaftarkanmu.”
tampa menunggu jawaban dari Windry, Lisa langsung meninggalkan ruang perawatan. Tampaknya ia ingin mendaftarkan Windry ke asrama ini.
“jadi kau ingin mendaftarkan anak itu?” tanya seorang lelaki berjanggut tebal.
Lisa mengangguk.
“tolong suruh anak itu mengisi ini.” Suruh lelaki berjanggut itu.
gadis berambut pirang itu mengangguk. Ia pun bergegas kembali ke ruang perawatan.
“aku sudah mendaftarkanmu. Kau harus mengisi formulirnya.” Suruh Lisa.
“em, baiklah.” Windry mulai menulis. Setelah selesai, Lisa langsung menyerahkannya pada lelaki berjanggut itu.
“sekarang, kau adalah bagian dari keluarga kami. Kau juga harus menganggap kami adalah keluargamu. Jadi, jangan sungan untuk meminta bantuan.” Saran Lisa. Windry mengangguk. Ia tampaknya senang menjadi bagian dari keluarga asrama Magicitria.
“hmm.” Delis menyilangkan tangannya. “segel!” teriaknya.
sebuah cahaya muncul. Cahaya itu masuk ke dalam tubuh gadis tadi.
“sekarang, tidak ada yang perlu dikawatirkan semuanya akan baik-baik saja.” Delis pun pergi meninggalkan ruangan itu. menyisakan Lisa dan gadis tadi. Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka mata. “dimana aku?” tanyanya dengan nada pelan.
“di asrama sihir Magicitria. Kau berada di ruang perawatan.” Jawab Lisa.
“Magicitria? Sekarang aku berada dinegara mana?” tanyanya masih bingung.
“Zronzdia.” Jawab Lisa.
“ey? Kok bisa?” gadis itu terkejut dan buru-buru berdiri. Namun sebelum berdiri Lisa menahannya.
“jangan berdiri dulu. aku baru saja mengobati lukamu.” Pesan Lisa.
“em, terimakasih.” Jawab gadis itu lalu tidur kembali.
“kau mau makan apa?” tanya Lisa lembut.
“makan apa saja aku mau. Tapi aku ingin pisang goreng.” Jawab gadis itu.
Lisa mengangguk. Ia pun menuju dapur untuk membuatkan makanan untuk gadis itu.
“ini, makan ya?” Lisa meletakan sepiring pisang goreng di sebelah ranjang gadis tadi.
“terima kasih.” Dengan lahap gadis tadi memakannya.
“namamu siapa?” tanya Lisa.
“Windry White Star.” Jawab gadis itu yang bernama Windry.
“namaku Lisa Roze. Salam kenal.” Lisa menyodorkan tangannya. Dan Windry membalasnya.
“kau berasal dari mana?” tanya Lisa.
“entahlah. aku diusir.” Jawab Windry. Lisa merasa iba ia pun menawarkan gadis itu untuk tinggal di asrama ini.
“benar tidak apa-apa?” tanya Windry.
“tentu saja! Aku akan mendaftarkanmu.”
tampa menunggu jawaban dari Windry, Lisa langsung meninggalkan ruang perawatan. Tampaknya ia ingin mendaftarkan Windry ke asrama ini.
“jadi kau ingin mendaftarkan anak itu?” tanya seorang lelaki berjanggut tebal.
Lisa mengangguk.
“tolong suruh anak itu mengisi ini.” Suruh lelaki berjanggut itu.
gadis berambut pirang itu mengangguk. Ia pun bergegas kembali ke ruang perawatan.
“aku sudah mendaftarkanmu. Kau harus mengisi formulirnya.” Suruh Lisa.
“em, baiklah.” Windry mulai menulis. Setelah selesai, Lisa langsung menyerahkannya pada lelaki berjanggut itu.
“sekarang, kau adalah bagian dari keluarga kami. Kau juga harus menganggap kami adalah keluargamu. Jadi, jangan sungan untuk meminta bantuan.” Saran Lisa. Windry mengangguk. Ia tampaknya senang menjadi bagian dari keluarga asrama Magicitria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar