Minggu, 22 November 2015



Arc 0.4: War part 2
“tolong aku masih belum ingin mati! Aku masih ingin hidup!”
“ibuuu tolong akuuuuu!”
“aku tidak mau mati disini!”
itulah teriakan anak-anak yang panik di tempat pengungsian.
“jangan khawatir, tempat pengungsian ini aman. Jadi, kalian tidak akan terkena efek peperangan.”
BattleField, Ibral City
 “maju! Jangan biarkan pasukan kita kalah oleh pasukan Carl! Jangan biarkan pasukan mereka merebut segalanya dari kita!”
teriakan panglima Fires mengema diseluruh medan perang kota Ibral. Dengan hanya satu teriakan tersebut, mampu membangkitkan semangat para prajurit.
“baik panglima! Kita akan melakukan apa saja demi kerajaan ini!”
“kalian yakin? Kalian terlihat seperti orang payah disini. apakah kalian siap mati? Apapun dapat terjadi di medan perang.”
“ya kami yakin! Kami siap mati! Kami siap mati kapan saja panglima!”
semua prajurit berseru.
“bagus, mari kita lajukan kuda kita. Kita akan melawan pasukan brengsek itu! cepat maju!” ucap panglima garang dengan mata setajam elang tersebut.
“baik, panglima Fires!”
Battlefield, Hanch City
“jangan biarkan jumlah mereka menakuti kita, mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan tekad kita!”
panglima Carlos juga memberi semangat.
“baik, panglima!”
“maju!”
Carlos dan pasukannya mulai membantai pasukan musuh. Medan perang tersebut sangatlah mengerikan. Darah bercipratan dimana-mana, teriakan mengema diseluruh tempat, dan mayat-mayat berserakan. Pasti kalau kalian melihatnya sendiri maka kalian akan ketakutan. Namun, hal itu tidak berlaku dengan pasukan panglima Carlos. Meskipun kalah jumlah dibanding pasukan musuh, mereka tetap semangat melawannya.
“tekad kitalah yang menuntun kita menuju kemenangan! Pasukan brengsek seperti kalian tidak akan tahu! Kalian hanya mengandalkan jumlah dan kekuatan”
ucap panglima Carlos saat menghabisi musuh-musuhnya.
“jangan sok, Carlos! Kita lihat saja siapa yang akan menang.” Ucap panglima Drugo panglima pasukan musuh.
mereka pun saling mengadu pedang mereka.
“sihir api, tembakan api!”
ucap pasukan Carlos yang berelemen api.
“sihir air, tembakan air!”
ucap pasukan Carlos yang berelemen air.
“elemen angin, puting beliung!”
ucap pasukan Carlos yang berelemen angin.
“elemen tanah, pertahanan suci!”
para pasukan Carlos yang berelemen tanah membuat dinding agar dapat melindungi pasukan Carlos dari serangan musuh. Carlos pun melakukan hal yang sama. Panglima berambut silver itu mengupcakan suatu mantra aneh.
“Dragonfire!” ucapnya. Sebuah naga raksasa muncul dan menyemburkan api ke arah pasukan musuh.
“jangan kira sihirmu dan pasukanmu cukup untuk mengalahkan pasukanku!”
panglima Drugo membuat dinding sihir yang transparan sehingga semburan api naga tersebut tidak mengenainya.
Battlefield, Cheng City
“kalian semua payah,” ucap panglima Findon sebagai ahli strategi terbaik di kerajaan Alvres.
“apa maksudnya! Kau ini jangan sok!”
“aku serius. Apakah kalian yakin bisa mengalahkan aku dan pasukan Alvres?” tanya Findon meremehkan.
“tentu saja! Pasukan Alvres tidak ada apa-apanya dibanding pasukan kami!”
“baiklah, kita mundur.” Ucap panglima Findon yang sukses membuat seluruh pasukannya bingung.
“tapi panglima...”
“lakukan! kita mundur sekarang pertempuran ini berbahaya!”
pasukan Findon pun berlarian meninnggalkan tempat tersebut. Tentu saja, pasukan musuh tidak akan membiarkan pasukan Alvres lolos. Dengan bodohnya mereka mengikuti pasukan Alvres. Sampilah mereka semua di sebuah gedung. Pasukan Alvres segera memasuki gedung tersebut. Pasukan musuh mengikutinya. Pasukan Alvres pun segera keluar. Setelah keluar, mereka segera mengunci pintu gedung tersebut sehingga membuat pasukan musuh terjebak.
“segera tembakan magic canon!” ucap panglima Findon. Orang-orang yang bertugas menembakan meriam tersebut langsung beraksi. Mereka langsung menembak gedung tersebut sampai hancur sehingga pasukan musuh tewas semua. Namun, ternyata peperangan itu belum selesai.
“bantuan musuh datang dari arah timur! Carl ada diantara mereka! Ini gawat!”
“bagaimana ini. aku tidak pernah menyangka bantuan musuh datang tiba-tiba seperti ini...” gerutu Findon.
Sedangkan di istana, raja Elvin ratu, dan para tetua kerajaan sedang mengamati peperangan dari sebuah bola kristal.
“pasukan di kota Ibral sepertinya berhasil memukul mundur pasukan musuh. Ternyata tidak salah memilih Fires sebagai panglima perang kota tersebut.” Raja Elvin mengamati pertempuran di kota Ibral.
“sepertinya di kota Hanch cukup memprihatinkan. Pasukan kita kalah jumlah dengan pasukan musuh.” Ucap ratu sambil mengamati pertempuran di kota Hanch.
“sepertinya ada bantuan musuh di ibu kota Cheng. Dan pasukan tersebut dipimpin Carl!” ucap salah seorang tetua.
“apa! Carl yang memimpin pasukan tersebut!” Elvin terkejut. “aku harus bergabung dalam pertempuran. Tidak mungkin Hindon bisa mengalahkannya. Meskipun dia ahli strategi, tapi kekuatan Carl sangatlah hebat. Bahkan dia dibacarakan telah melakukan ritual terlarang. Yaitu ritual membangkitkan mayat. Siapa tahu mayat tersebut akan menyerang ibu kota! Dan siapa tahu mayat tersebut adalah orang yang kuat seperti raja Arlok, panglima Alfonso, Panglima Fonzy, atau Panglima Hidar. Mereka berempat dijuluki dewa penyihir!” raja Elvin panik.
“tenang dulu. kita tidak boleh membuat pergerakan yang salah.” Ratu memperingatkan.
“t tapi...” raja makin panik.
“benar, raja ada benarnya juga. Ritual itu benar-benar menakutkan. Jika memang Carl telah melakukannya. Mungkin saja dia bisa membangkitkan dewa penyihir.” Ucap seorang tetua.
“baik, sudah diputuskan, aku akan pergi ke medan perang!” raja memakai jubah perangnya. “aku akan memenangkan pertempuran itu tenang saja!”
raja pun berteleportasi. Cara berteleportasi adalah kita harus melukai tangan kita sedikit lalu menulis tanda lingkaran dengan darah kita. Setelah jadi, kita harus mengucapkan nama tempat yang akan kita tuju. Tenang saja, karena setelah berteleportasi, maka luka tersebut akan menetup sendiri. kerugiannya adalah, teleportasi hanya dapat digunakan seminggu sekali.
“jadi, bagaimana dengan kota Hanch?” tanya ratu.
“hmm, aku juga masih bingung. Semua panglima perang dan prajurit telah turun ke medan perang. kecuali Fransisco dan Viadir. Kalau kita mengirim mereka semua, maka siapa yang menjaga anak-anak?”
semua orang sedang sibuk memikirkan cara agar masalah ini selesai.
“aku punya solusi.” Ucap ratu tiba-tiba.
“apa yang mulia?” tanya para tetua bersamaan.
“bagaimana kalau kita kirim Viodir untuk ke Hanch. Sedangkan Fransisco akan menjaga anak-anak. Lagi pula pengungsian itu tidak bisa ditembus siapapun. Hanya orang tertentu yang dapat membuka pintu pengungsian tersebut.” Saran ratu.
“t tapi... aku khawatir pada anak-anak.” Tetua masih ragu.
“kita tak punya pilihan lain. Lagi pula, Fransisco cukup kuat. Dia penyihir kelas A.”  ucap ratu.
“baik, kalau itu mau paduka.”
Di tempat pengungsian...
Para anak-anak masih saja berteriak panik.
“kapan perangnya selesai!”
“aku takut!”
“cepetan perangnya selesai! Aku mau pulang!”
“diam kalian! Kalian memalukan.” Ucap Valatia.
salah seorang penjaga anak-anak tersebut tiba-tiba mendapat telepati.
“anda harus pergi ke kota Hanch, sekarang!” ucap sebuah suara di kepala penjaga anak-anak tersebut yang bernama Hiadir.
“t tapi.. bagaimana dengan mereka?” tanya Hiadir.
“jangan khawatir, tidak ada musuh yang dapat memasuki tempat pengungsian ini.” ucap suara tersebut.
“baik, kalau itu mau yang mulia.” Hiadir pun segera berteleportasi. Meninggalkan anak-anak dan Fransisco. Setelah Hiadir pergi, Fransisco tiba-tiba menjentikan jarinya. Keluarlah segerombolan pasukan Carl.
“bunuh anak-anak ini.” ucap Fransisco yang ternyata telah berkhianat. Anak-anak panik. Mereka berlarian kesana kemari. Hanya Fireon, Valatia, dan Misaki yang tampaknya tenang-tenang saja.
“sekarang, tidak ada yang menjaga kalian musnahlah kalian!” ucap Fransisco senang.
“ibu tolong aku!”
“ada penghianat disini!”
“tolooong!”
anak-anak semakin panik.
“lalu, apa yang terjadi jika tidak ada yang menjaga kita?” ucap Valatia tenang.
“dasar penghianat akan kubunuh kau!” ucap Fireon.
“kau sangat memalukan, Fransisco!” ucap Misaki
Fransisco kaget. Ditatapnya tiga orang anak yang sama sekali tidak ketakutan.
“jangan membuatku tertawa, anak-anak payah! Jangan kalian pikir kalian bisa mengalahkan aku.” ucap Fransisco meremehkan.
“kami bisa. Karena kami punya tekad. Tidak sepertimu yang hanya mengandalkan kekuatan.” Ucap Fireon.
“Fireon dan Misaki, kalian kalahkan para prajurit yang berdatangan. Sedangkan aku akan menghadapi pengkhianat ini.” ucap Valatia. Valatia lalu mengeluarkan pedangnya.
“majulah, aku sangat senang sekali jika ada orang yang bisa kujadikan bahan pengetes kemampuan bertarungku.” Ucap Valatia tenang.
“sih, matilah kau anak ingusan!”
TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar