Jumat, 20 November 2015

Find The Book Of Trought Chapter 2

Sebuah anak panah tertancap dengan sempurna di atas papan target. Yang melempar Adalah Tera. Putri kerajaan Alvres sekaligus adik kembar dari Fireon E Alvres.
“bagus, tuan putri. Kemampuan memanahmu sangat hebat.”
seorang lelaki bertubuh tinggi dengan rambut silver yang merupakan pelatih Tera memberikan pujian kepada Tera. Dan, Tera hanya membalasnya dengan menggeleng.
“ini belum cukup, aku harus bisa lebih hebat lagi. Aku ingin sekuat kakakku Fireon.”
“tuan putri tidak lelah?”
“tidak.”
Tera kembali memanah. Ia menarik busurnya. Setelah itu, melesatlah sebuah anak panah dengan kecepatan luar biasa ke arah papan target. Lagi-lagi tepat sasaran. Benar-benar gadis yang perlu diberi jempol.
“aku merasa bosan,” kata Tera.
“tuan putri ingin istirahat?”sang pelatih bertanya lembut. “biar saya buatkan teh atau susu kalau mau.”
Tera menggeleng. “tidak, aku mau latihan pedang.”
“t tapi... itu berbahaya...” sang pengawal menolak suruhan Tera. Berpedang lebih berbahaya dari pada memanah. Kalau melatih gerakan pedang si tidak apa-apa. Tapi, yang Tera mau adalah mengadu pedang. Pelatih itu takut Tera terluka.
“aku mau latihan pedang. Aku mohon... aku ingin sekali berlatih pedang...” Tera berkata sembari memohon.
sang pengawal menghela nafas. Memang Tera adalah gadis yang keras kepala.
pengawal itu mengambil sebuah pedang kayu. “tuan putri siap?”
“kok pedang kayu? Itu tidak menyenangkan.”
lagi-lagi sang pelatih hanya bisa menghela nafas.
“tidak bisa. Tuan putri harus dihindarkan dari bahaya apapun.”
“aku tetap ingin berlatih dengan pedang sungguhan.”
“tapi, paduka raja bilang...”
Pelatih itu mencoba menghentikan Tera. Namun, apa daya, Tera sudah lari duluan. Ia hanya bisa menghela nafas pasrah. Tidak ada gunanya mengejarnya, Tera pasti akan menyembunyikan dirinya dengan sihirnya. Kemampuan sihir Tera sangatlah luar biasa. Mungkin setara dengan Fireon kakaknya.
Tera berjalan menyusuri istana. di sepanjang jalan ia tidak menemukan pedang apapun.
“pasti para pengawal kerajaan menyembunyikannya supaya aku tidak dapat mengambilnya.” Tera mendengus kesal.
“tidak ada gunanya mencari di sini. Aku lebih baik menyelinap ke gudang bawah tanah.”
Tera mengucapkan sebuah mantra. Munculah prajurit-prajurit buatan. Prajurit itu langsung diperintah oleh pemilik agar mengacaukan istana. kemudian, gadis itu berteriak.
“tolong aku! sekelompok prajurit mengincarku!”
para pengawal berlarian dari tempat asal mereka. Tera tersenyum puas. Sekarang tidak ada yang menjaga pintu gudang. Pikirnya. Gadis itu lalu membuka pintu gudang. Setelah terbuka, ia langsung masuk kedalamnya. Gudang itu begitu gelap. Sarang laba-laba banyak terdapat di gudang tersebut. Tera tidak mempedulikan keadaan gudang, ia tetap melanjutkan perjalanannnya. Sampailah ia disebuah pintu lapuk. Ia langsung membukanya. Didalamnya begitu bersih. Tidak ada sarang laba-laba di dalam gudang tersebut. Tera kebingungan. ruangan ini lebih bersih dari pada istana tempat tinggalnya. Setelah menyusuri ruangan tersebut, ia melihat sebuah pintu besar berlogo kerajaan Alvres. Ia langsung membukanya. Didalamnya terpampang pedang-pedang kuno. Mulai dari pedang petir milik panglima Alfonso, pedang api milik panglima Fonzy, pedang air milik panglima Hider, sampia pedang cahaya milik raja Arlok. Raja pertama kerajaan Alvres. Tera mendekat pedang cahaya milik Arlok E Alvres. Benar-benar besar. Dan bercahaya. Tera ragu untuk menyentuhnya. Konon Arlok bilang.
“jangan kalian pikir pedang ini akan menjadi milik kalian. Pedang ini hanya akan dimiliki oleh orang yang kutunjuk. Jika kau menyentuhnya sejengkal saja, maka pedang ini akan membakar tanganmu.”
itulah kata-kata raja Arlok kepada anaknya Kevin saat itu. dan benar saja, saat Kevin melangarnya, tangannya terbakar. Sejak saat itu, orang-orang kerajaan Alvres tidak ada yang berani mengambilnya. Tera gemetar. Ia ingin sekali memegang pedang itu yang telah menjadi saksi bisu terbentuknya kerajaan Alvres. Tapi, disisi lain, ia takut kalau pedang itu akan membakar tangannya. Tapi, rasa keinginan memegang pedang legendaris itu lebih besar dari pada rasa ketakutannya. Akhirnya tangan Tera memegang pedang tersebut.
“aneh, kok tanganku tidak terbakar?”
saat tangan Tera menyentuh pedang itu, bukannya terbakar, tapi tangannya malah bercahaya. Cahaya itu menyilaukan mata. Sehingga Tera harus menutup mata agar cahaya itu tidak melukai matanya.
“ambilah pedangku, Tera E Alvres.”
sebuah suara terdengar dari pedang itu. suara itu mirip sekali dengan suara raja Arlok. Akhirnya, Tera memutuskan untuk mengambil pedang tersebut. Ia membawa pedang itu ke istananya. Ia ingin menunjukan pada ayahnya kalau pedang terkutuk itu telah jatuh ke tangannya. Namun, di perjalanan... seseorang menghentikan langkah Tera.
“gadis cantik, kemarilah.”
mendengarnya, Tera langsung mengayunkan pedang cahayanya. Namun, karena kemampuan berpedangnya buruk, akhirnya Tera ditangkap oleh orang tersebut.
Pelatih Tera menunggu Tera dengan cemas. Bagaimana tidak cemas, ia telah menunggu Tera selama 5 jam tapi, gadis itu tak kunjung datang. Dua orang berjalan ke arah istana. orang itu tak lain dan tak bukan adalah Fireon dan Valatia yang nampaknya telah selesai berburu iblis. Mereka membawa seorang pria berjubah hitam.
“selamat datang pangeran.”
ucap pelatih Tera lembut sembari menunduk.
“ya. terimakasih atas sambutannya. Eh bagaimana perkembangan adikku? Apakah dia semakin baik? Jangan mengeluh ya kalau dia keras kepala? Dia memang seperti itu.”
mendengar pangeran Fireon menanyakan perkembangan Tera mendadak wajah pelatih itu menjadi murung.
“tuan putri menghilang. Sudah tiga jam aku menunggu tapi, dia tak kunjung kembali.”
pangeran Fireon kaget. Ia menerka-nerka pasti ini ulah teman dari pria berjubah hitam yang kini ditawannya.
“ternyata mereka berhasil.” Gumam pria berjubah hitam pelan. Tapi, masih bisa didengar oleh Valatia.
“katakan, dimana mereka menyembunyikan Tera?”
pria berjubah hitam kaget. Ia tak menyangka Valatia dapat mendengar ucapannya. Padahal ia berkata dengan sangat pelan.
“katakan. Atau aku akan membunuhmu.”
Valatia makin mendesak pria berjubah hitam agar bicara.
“aku tak mungkin melalaikan tugas. Lakukan apa saja kepadaku! Aku tak takut!”
“baiklah. Jangan menyesal.”
Valatia menjambak rambut pria berjubah hitam. Dan seketika, pria berjubah hitam mati. Sebenarnya yang dilakukan Valatia bukan menjambak, tapi mengambil ingatan pria itu. ia melakukannya agar dapat mengetahui keberadaan Tera. Kelemahan dari kemampuan itu adalah, kalau orang itu berhasil selamat dari kemampuan itu maka dia mendapatkan ingatan yang mengambil ingatannya. Tapi, orang yang dapat selamat dari kemampuan itu hanyalah orang yang memiliki sihir tingkat A atau lebih tinggi. Dan orang berjubah hitam sihirnya D. jadi, sudah dipastikan orang berjubah hitam mati. Valatia langsung bergegas ke tempat dimana Tera ditawan. Ia tak mau mengulur waktu.
“biarkan aku ikut! Aku juga harus menyelamatkan Tera!”
“tidak usah. Kau harus memberitahukan ini pada ayahmu. Bilang bahwa Carl berniat mengambil alih kerajaan Alvres.”
“paman Carl ingin... mengambil alih kerajaan Alvres? Kenapa dia setega ini?”
 Fireon bertanya dalam hati. Ia begitu bingung. Paman Carl yang ia kenal adalah orang yang baik, penuh pengertian, dan penyayang. Tapi, kenapa ia tega melakukan ini? apa motif dibalik ini semua?
TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar